INDIVIDU
KHUSUS (TUNARUNGU)
Laporan Obsevasi
Diususun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Psikologi Pendidikan
Dosen
Pengampu : Muzdalifah, M.Si
Disusun
Oleh:
Ulin Nuha : (112246)
Bustanul Arifin : (112234)
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN
TARBIYAH / PAI
TAHUN
2014
A.
DASAR TEORI
1.
Pengertian Tunarungu
Tunarungu dapat
diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan
seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui indera
pendengarannya. Batasan pengertian anak tunarungu telah banyak dikemukakan oleh
para ahli yang semuanya itu pada dasarnya mengandung pengertian yang sama.
Dibawah ini dikemukaka beberapa definisi anak tunarungu.
Andreas Dwijoyo
sumarto mengemukakan bahwa seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar
suara dikatakan tunarungu. Ketunarunguan dibedakan menjadi dua kategori yaitu
tuli dan kurang dengar. Tuli adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami
kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengaran tidak berfungsi lagi.
Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami
kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan maupun
tanpa menggunnakan alat bantu dengar.
Memperhatikan
batasan-batasan diatas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa tunarungu adalah
mereka yang kehilangan pendengaran baik sebagian maupun seluruhnya yang
menyebabkan pendengarannya tidak memiliki nilai fungsional di dalam kehidupan
sehari-hari.
2.
Klasifikasi Anak Tunarungu
a.
Klasifikasi secara etiologis
Yaitu pembagian berdasarkan sebab-sebab, dalam hal ini penyebab
ketunarunguan ada beberapa faktor Yaitu:
1)
Pada saat sebelum dilahirkan
·
Salah satu atau kedua orang tua anak menderita tuna rungu atau mempunyai gen sel pembawa sifat abnormal,
misalnya dominat genes, recesive, dan lain-lain.
·
Karena penyakit: sewaktu ibu mengandung terserang suatu penyakit,
terutama penyakit-penyakit yang diderita pada saat kehamilan tri semester
pertama yaitu pada saat pembentukan ruang telinga. Penyakit itu ialah rubella,
moribili dan lain-lain.
·
Karena keracunan obat-obatan: pada suatu kehamilan, ibu meminum
obat-obatan terlalu banyak, ibu seorang pecandu alkohol, atau ibu tidak
menghendaki kehadiran anaknya sehingga ia meminum obat penggur kandungan, hal
ini akan menyebabkan ketuna runguan anak yang dilahirkan.
2)
Pada saat kelahiran
·
Sewaktu melahirkan, ibu mengalami kesulitan sehingga persalinan
dibantu dengan penyedotan (tang).
·
Prematuritas, yakni banyi yang lahir sebelum waktunya lahir.
3)
Pada saat setelah kelahirkan
·
Ketulian yang terjadi karena infeksi, misalnya infeksi pada otak
atau infeksi umum seperti diferi, morbili dan lain-lain.
·
Pemakaian obat-obatan ototoksi pada anak-anak.
·
Karena kecelakaan yang mengakibatkan alat pendengaran bagian dalam,
misalnya jatuh.
b.
Klasifikasi menurut tarafnya
Klasifikasi menurut tarafnyadapat diketahui dengan tes audiometris.
Untuk kepentingan pendidikan ketunarunguan diklasifikasikan sebagai berikut:
Andreas Dwidjosumarto mengemukakan sebagai berikut:
§ Tingkat I,
kehilangan kemampuan mendengar antara 35-54 dB, penderita hanya memerlukan
latiha berbicara dan bantuan mendengar secara khusus.
§ Tingkat II,
kehilangan kemampuan mendengar antara 35-69 dB, penderita kadang-kadang
memerlukan penempatan sekolah secara khusus, dalam kebiasaan sehari-hari memerlukan
latihan berbicara dan bantuan latihan berbahasa secara khusus.
§ Tingkat III,
kehilangan kemampuan mendengar antara 70-89 dB.
§ Tingkat IV,
kehilangan kemampuan mendengar 90 dB ke atas.
Penderita dari tingkat I dan II dikatakan mengalami ketulian. Dalam
kebiasaan sehari-hari mereka sesekali latihan berbicara, mendengar berbahasa,
dan memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus. Anak yang kehilangan
kemampuan mendengar dari tingkat III dan IV pada hakekatnya memerlukan
pelayanan pendidikan khusus.
B.
OBYEK PENELITIAN
Nama :
Muhammad Farhan
TTL :
Demak, 16 Februari 2002
Alamat :
Ds. Surodadi Kec. Gajah Kab. Demak
Pendidikan : SDLB Pancasila Demak
Usia :
12 tahun
Mengetahui Orag Tua Muhammad Farhan,
ASRORI
Farhan adalah
anak terakhir dari tiga laki-laki bersaudara. Orang tuanya bermata pencaharian
sebagai petani dan ayahnya mempunyai pekerjaan sampingan sebagai tukang ojek.
Tidak sebperti anak normal pada umumnya, Farhan mempunyai kekurangan pada
fisiknya yaitu sejak lahir indra pendengarannya sama sekali tidak berfungsi
atau dalam isttilah lain ia menderita kelainan tunarungu. Sampai
sekarang belum diketahui penyebab pasti dari kelainannya itu, padahal dari
semua anggota keluarganya tidak ada yang menderita kelainan tunarungu.
Kemungkinan besar hal itu terjadi dikarenakan ketika dalam kandungan
perkembangan indra pendengarannya terhambat oleh sesuatu misalnya penyakit.
Sekarang ini
Farhan terdaftar sebagai siswa kelas 5 SDLB Pancasila Demak. Setiap hari ia
berangkat sekolah diantar-jemput oleh ayahnya. Sebab lokasi sekolahnya cukup
jauh dari tempat tinggalya.
C.
HASIL OBSERVASI
Berikut ini
kami akan menjelaskan hasil observasi yang kami lakukan kepada Muhammad Farhan
yang terbagi dalam empat aspek yaitu : intelektual, kepribadian, emosi dan
sosial.
1.
Aspek Intelektual
Pada umumnya intelegensi anak tunarungu secara potensial sama
dengan sama dengan anak normal, tapi secara fungsional perkembangannya
dipengaruhi oleh tingat kemampuan berbahasnya. Dengan demikian
perkembangan intelegensi secara
fungsional terhambat. Begitu juga yang terjadi kepada Farhan, ia sama sekali
tidak dapat memahami ataupun berbicara bahasa. Ia hanya dapat memahami
bahasa-bahasa isyarat yang bersifat visual (penglihatan). Kalaupun bias bias
bicara, ia hanya dapat mengucapkan kata “ak-ak-ak” yang sama sekali tidak dapat
dipahami. Dalam berkomunikasi ia hanya menggunakan bahasa isyarat menggunakan
tangan gerak tubuh dan mimik wajah.
Walaupun begitu ia tidak seperti anak idiot, perkembangan
kecerdasannya cukup normal dalam sikap maupun perilaku. Ketika diajak
berkomunikasi (tentunya dengan menggunakan bahasa isyarat) ia dapat mengerti
maksud dari lawan berbicaranya. Seperti ketika kami menunjuk sebuah tulisan
angka, ia langsung mengangkat jarinnya dengan jumlah sesuai dengan angka yang
kami tunjuk.
2.
Aspek Kepribadian
Kepribadian pada dasarnya
merupakan keseluruhan sikap dan sifat pada sesseorang yang menentukan cara-cara
yang unik dalam penyesuainnya dengan lingkungan. Pada kasus Farhan, secara
keseluruhan sifat dan sikapnya sama seperti anak pada seusianya. Tapi ia
memiliki kesullitan dalam penyesuainnya dengan lingkungan akibat
kterbatasannya, sehinnga ia memiliki sifat minder. Untuk menutupinya ia memilih
menjadi anak yang sedikit bandel dan nakal. Tapi dari pengamatan kami,
kenakalan dan kebandelannya masih dalam tingkat yang wajar, tidak sampai
berbuat kriminal / sesuatu yang merugikan orang lain. Untuk menarik perhatian
ia sangat senang berbuat usil dan iseng pada orang lain.
3.
Aspek Emosi
Karena kekurangan yang dimiliki Farhan, ia sering sulit
menyampaikan perasaan dan kemauannya kepada orang lain. Begitu juga bagi orang
lain sulit untuk mengerti kemaunnya. Sehingga hal tersebut memberikan tekanan
terhadap emosinnya. Karena hal itu berlansung terus menerus akibatnya ia mudah marah karena kemauannya
sering tidak terpenuhi.
4.
Aspek Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial selalu memerlukan kebersamaan dengan
orang lain. Demikian pula dengan anak tunarungu, ia tidak terlepas dari
kebutuhan tersebut.
Dari pengamatan yang telah kami lakukan, kami tidak melihat
kelainan dalam hubungan atau pergaulan dengan teman-temannya. Di tempat
tinggalnya ia cukup banyak mempunyai teman akrab dan kebanyakan teman-temannya
sudak mengerti keadaannya serta sudah terbiasa dan mengerti dengan cara dia
berkomunikasi.
Ia sangat suka bersepeda keliling desa dengan teman-temannya dan
juga mencari ikan di sungai. Kebetulan lingkungan tempat tinggalnya adalah
daerah pedesaan sehingga masih banyak sungai-sungai kecil yang masih banyak
ikannya.
D.
REFERENSI
Muuzdalifah,
Psikologi Pendidikan, Kudus : STAIN, 2008.