Minggu, 25 Mei 2014

INDIVIDU KHUSUS



INDIVIDU KHUSUS (TUNARUNGU)

Laporan Obsevasi

Diususun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu : Muzdalifah, M.Si







Disusun Oleh:
Ulin Nuha         : (112246)
Bustanul Arifin : (112234)

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH / PAI
TAHUN 2014

A.    DASAR TEORI
1.      Pengertian Tunarungu
Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui indera pendengarannya. Batasan pengertian anak tunarungu telah banyak dikemukakan oleh para ahli yang semuanya itu pada dasarnya mengandung pengertian yang sama. Dibawah ini dikemukaka beberapa definisi anak tunarungu.
Andreas Dwijoyo sumarto mengemukakan bahwa seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara dikatakan tunarungu. Ketunarunguan dibedakan menjadi dua kategori yaitu tuli dan kurang dengar. Tuli adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengaran tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan maupun tanpa menggunnakan alat bantu dengar.
Memperhatikan batasan-batasan diatas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa tunarungu adalah mereka yang kehilangan pendengaran baik sebagian maupun seluruhnya yang menyebabkan pendengarannya tidak memiliki nilai fungsional di dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Klasifikasi Anak Tunarungu
a.       Klasifikasi secara etiologis
Yaitu pembagian berdasarkan sebab-sebab, dalam hal ini penyebab ketunarunguan ada beberapa faktor Yaitu:
1)      Pada saat sebelum dilahirkan
·         Salah satu atau kedua orang tua anak menderita tuna rungu atau  mempunyai gen sel pembawa sifat abnormal, misalnya dominat genes, recesive, dan lain-lain.
·         Karena penyakit: sewaktu ibu mengandung terserang suatu penyakit, terutama penyakit-penyakit yang diderita pada saat kehamilan tri semester pertama yaitu pada saat pembentukan ruang telinga. Penyakit itu ialah rubella, moribili dan lain-lain.
·         Karena keracunan obat-obatan: pada suatu kehamilan, ibu meminum obat-obatan terlalu banyak, ibu seorang pecandu alkohol, atau ibu tidak menghendaki kehadiran anaknya sehingga ia meminum obat penggur kandungan, hal ini akan menyebabkan ketuna runguan anak yang dilahirkan.
2)      Pada saat kelahiran
·         Sewaktu melahirkan, ibu mengalami kesulitan sehingga persalinan dibantu dengan penyedotan (tang).
·         Prematuritas, yakni banyi yang lahir sebelum waktunya lahir.
3)      Pada saat setelah kelahirkan
·         Ketulian yang terjadi karena infeksi, misalnya infeksi pada otak atau infeksi umum seperti diferi, morbili dan lain-lain.
·         Pemakaian obat-obatan ototoksi pada anak-anak.
·         Karena kecelakaan yang mengakibatkan alat pendengaran bagian dalam, misalnya jatuh.
b.      Klasifikasi menurut tarafnya
Klasifikasi menurut tarafnyadapat diketahui dengan tes audiometris. Untuk kepentingan pendidikan ketunarunguan diklasifikasikan sebagai berikut:
Andreas Dwidjosumarto mengemukakan sebagai berikut:
§  Tingkat I, kehilangan kemampuan mendengar antara 35-54 dB, penderita hanya memerlukan latiha berbicara dan bantuan mendengar secara khusus.
§  Tingkat II, kehilangan kemampuan mendengar antara 35-69 dB, penderita kadang-kadang memerlukan penempatan sekolah secara khusus, dalam kebiasaan sehari-hari memerlukan latihan berbicara dan bantuan latihan berbahasa secara khusus.
§  Tingkat III, kehilangan kemampuan mendengar antara 70-89 dB.
§  Tingkat IV, kehilangan kemampuan mendengar 90 dB ke atas.
Penderita dari tingkat I dan II dikatakan mengalami ketulian. Dalam kebiasaan sehari-hari mereka sesekali latihan berbicara, mendengar berbahasa, dan memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus. Anak yang kehilangan kemampuan mendengar dari tingkat III dan IV pada hakekatnya memerlukan pelayanan pendidikan  khusus.

B.     OBYEK PENELITIAN
Nama                      : Muhammad Farhan
TTL                        : Demak, 16 Februari 2002
Alamat                    : Ds. Surodadi Kec. Gajah Kab. Demak
Pendidikan             : SDLB Pancasila Demak
Usia                        : 12 tahun
Mengetahui Orag Tua Muhammad Farhan,

ASRORI
Farhan adalah anak terakhir dari tiga laki-laki bersaudara. Orang tuanya bermata pencaharian sebagai petani dan ayahnya mempunyai pekerjaan sampingan sebagai tukang ojek. Tidak sebperti anak normal pada umumnya, Farhan mempunyai kekurangan pada fisiknya yaitu sejak lahir indra pendengarannya sama sekali tidak berfungsi atau dalam isttilah lain ia menderita kelainan tunarungu. Sampai sekarang belum diketahui penyebab pasti dari kelainannya itu, padahal dari semua anggota keluarganya tidak ada yang menderita kelainan tunarungu. Kemungkinan besar hal itu terjadi dikarenakan ketika dalam kandungan perkembangan indra pendengarannya terhambat oleh sesuatu misalnya penyakit.
Sekarang ini Farhan terdaftar sebagai siswa kelas 5 SDLB Pancasila Demak. Setiap hari ia berangkat sekolah diantar-jemput oleh ayahnya. Sebab lokasi sekolahnya cukup jauh dari tempat tinggalya.
C.    HASIL OBSERVASI
Berikut ini kami akan menjelaskan hasil observasi yang kami lakukan kepada Muhammad Farhan yang terbagi dalam empat aspek yaitu : intelektual, kepribadian, emosi dan sosial.
1.      Aspek Intelektual
Pada umumnya intelegensi anak tunarungu secara potensial sama dengan sama dengan anak normal, tapi secara fungsional perkembangannya dipengaruhi oleh tingat kemampuan berbahasnya. Dengan demikian perkembangan  intelegensi secara fungsional terhambat. Begitu juga yang terjadi kepada Farhan, ia sama sekali tidak dapat memahami ataupun berbicara bahasa. Ia hanya dapat memahami bahasa-bahasa isyarat yang bersifat visual (penglihatan). Kalaupun bias bias bicara, ia hanya dapat mengucapkan kata “ak-ak-ak” yang sama sekali tidak dapat dipahami. Dalam berkomunikasi ia hanya menggunakan bahasa isyarat menggunakan tangan gerak tubuh dan mimik wajah.
Walaupun begitu ia tidak seperti anak idiot, perkembangan kecerdasannya cukup normal dalam sikap maupun perilaku. Ketika diajak berkomunikasi (tentunya dengan menggunakan bahasa isyarat) ia dapat mengerti maksud dari lawan berbicaranya. Seperti ketika kami menunjuk sebuah tulisan angka, ia langsung mengangkat jarinnya dengan jumlah sesuai dengan angka yang kami tunjuk.
2.      Aspek Kepribadian
Kepribadian  pada dasarnya merupakan keseluruhan sikap dan sifat pada sesseorang yang menentukan cara-cara yang unik dalam penyesuainnya dengan lingkungan. Pada kasus Farhan, secara keseluruhan sifat dan sikapnya sama seperti anak pada seusianya. Tapi ia memiliki kesullitan dalam penyesuainnya dengan lingkungan akibat kterbatasannya, sehinnga ia memiliki sifat minder. Untuk menutupinya ia memilih menjadi anak yang sedikit bandel dan nakal. Tapi dari pengamatan kami, kenakalan dan kebandelannya masih dalam tingkat yang wajar, tidak sampai berbuat kriminal / sesuatu yang merugikan orang lain. Untuk menarik perhatian ia sangat senang berbuat usil dan iseng pada orang lain.
3.      Aspek Emosi
Karena kekurangan yang dimiliki Farhan, ia sering sulit menyampaikan perasaan dan kemauannya kepada orang lain. Begitu juga bagi orang lain sulit untuk mengerti kemaunnya. Sehingga hal tersebut memberikan tekanan terhadap emosinnya. Karena hal itu berlansung terus menerus  akibatnya ia mudah marah karena kemauannya sering tidak terpenuhi.
4.      Aspek Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial selalu memerlukan kebersamaan dengan orang lain. Demikian pula dengan anak tunarungu, ia tidak terlepas dari kebutuhan tersebut.
Dari pengamatan yang telah kami lakukan, kami tidak melihat kelainan dalam hubungan atau pergaulan dengan teman-temannya. Di tempat tinggalnya ia cukup banyak mempunyai teman akrab dan kebanyakan teman-temannya sudak mengerti keadaannya serta sudah terbiasa dan mengerti dengan cara dia berkomunikasi.
Ia sangat suka bersepeda keliling desa dengan teman-temannya dan juga mencari ikan di sungai. Kebetulan lingkungan tempat tinggalnya adalah daerah pedesaan sehingga masih banyak sungai-sungai kecil yang masih banyak ikannya.

D.    REFERENSI
Muuzdalifah, Psikologi Pendidikan, Kudus : STAIN, 2008.